The Future Is Certainty

The Future Is Certainty

Senin, 21 Februari 2011

Membangun Tanpa Gas Rumah Kaca?



Hati gundah ketika daerah Sumatra Selatan bangga dijuluki sebagai “lumbung energi” karena berpotensi batubara, minyak, serta gas bumi masing-masing 50% dan 11% dari total cadangan nasional. Sumber energi ini memuat bahan  cemar karbon dioksida, metan, dan nitro dioksida, dikenal sebagai “gas rumah kaca” (GRK) yang mengancam kehidupan manusia. Lebih dari 10 tahun sudah berlangsung pembakaran lahan pertanian, perkebunan, tanah gambut, dan hutan yang melepaskan GRK melalui asap tebal serta melumpuhkan angkutan sungai dan penerbangan setiap tahun. Banyak pengamat lngkungan risau menyaksikan gumpalan zat cemar tahunan membentuk Asian Brown Cloud, awan coklat Asia, menggantung di angkasa.


Klik gambarnya kalau mau lihat lebih jelas lagi J

Sampai sekarang Indonesia masih menggunakan bensin bertimah hitam yang meningkatkan kadar GRK dan merusak kesehatan. Kendaraan yang berlalu lalang tidak mengenal batas usia sehingga menghasilkan kadar GRK tinggi yang mengotori udara. Semula sinar matahari menghasilkan panas bumi yang kembali lepas ke atmosfir dan menyejukkan suhu bumi yang nyaman bagi kehidupan manusia. Sejak revolusi industri, kegiatan industri, transportasi dan energi, pembukaan hutan, lahan ,dan gambut menumpukkan GRK di atmosfir. Muncul “efek rumah kaca” yang menahan radiasi panas bumi sehingga menaikkan suhu bumi. Penumpukan GRK naik tajam dalam ukuran puluhan tahun. Jika laju pertumbuhan GRK ini berlanjut tanpa kendali, maka suhu global akan semakin panas. Suhu global tahun 1990-an lebih panas 0,6 derajat Celcius ketimbang 100 tahun lalu. Bila pola pembangunan tak berubah, suhu global akan naik 1,7-4,5 derajat Celsius tahun 2100.

Suhu bumi yang semakin panas memekarkan air laut. Bongkahan es di kutub utara dan di kutub selatan serta pegunungan salju mencair. Permukaan air laut diperkirakan naik 15-95 cm. Sudah lama pulau Tuvalu, Kiribati, dan Kepulauaan Marshall di Samudera Pasifik tenggelam dimusim hujan sehingga penduduk pindah ke Selandia Baru. Banyak ahli meramalkan “penenggelaman pulau“ akan semakin meningkat di abad ke-21, terutama di samudera Pasifik dan Hindia. Indonesia sendiri menjelang pertengahan abad ke-21 diperkirakan menderita penenggelaman 2.000 pulau kecil dimusim hujan dan peningkatan frekuensi banjir dikawasan pesisir. Dampak naiknya suhu bumi akibat perubahan iklim menyebabkan musim hujan semakin pendek tetapi intensif, sedangkan musim kemarau semakin panjang dan lebih kering. Air permukaan daratan mengering semakin cepat sehingga air semakin langka.

Perubahan suhu menaikkan jenis penyakit berkaitan dengan musim dan udara yang berfluktuasi tajam. Penyakit lama mewabah, seperti flu dan malaria, sedangkan penyakit baru terus meluas. Food and Agriculture Organization (FAO) mengingatkan dampak negatif perubahan iklim pada pertanian akan lebih besar dikawasan tropis ketimbang di kawasan lain. Perubahan iklim akan semakin besar variasinya menjelang 2030 di kawasan tropis sehingga upaya “pengendalian” dampak harus disertai langkah “adaptasi” kehidupan dengan perubahaan iklim. Adaptasi ini dimungkinkan apabila laju perubahan suhu global berlangsung lamban sehingga kehidupan alam dapat menyesuaikan diri dengan kelambanan perubahan iklim.

Karena negara maju merupakan penghasil GRK utama, mereka harus menurunkan pembuangan GRK tahun 2008-2012 ke tingkat pembuangan GRK lima persen dibawah tingkat tahun 1990. Ini memerlukan upaya pertama: menurunkan tingkat pembuangan GRK di tingkat masing-masing negara melalui kebijakan pembangunan tanpa GRK. Kedua, memperluas kapasitas alam menyerap GRK melalui perluasan kawasan hutan dan pengelolaan lahan yang lebih ramah lingkungan. Ketiga, mengembangkan mekanisme global untuk mencapai sasaran yang memungkinkan negara industri “membeli” sejumlah kadar penururan buangan GRK melalui pembangunan proyek ramah lingkungan di negara berkembang. Bank Dunia juga telah menghimpun 800 juta dollar AS “Prototype Carbon Fund” (PCF) untuk membiayai proyek ramah lingkungan di negara berkembang.

Salah satu contoh adalah Indocement Indonesia yang telah menandatangani Emissions Reduction Purchase Agreement dengan bank dunia pada juni 2004. Dengan dana PCF, Indocement membiayai produksi kualitas semen yang hemat energi dan mengganti batubara dengan biomassa. Kebijakan energy diarahkan untuk mengurangi peranan dan proporsi energi tak terbarukan dengan meningkatkan peranan dan proporsi energi terbarukan. Kebijakan pertaniaan beririgasi perlu dijajaki alternatifnya.

Pola pengendalian banjir perlu dikaji ulang untuk tidak membuang air hujan ke laut, tetapi mengusahakan penyerapan dan penampungannya melalui situs dan danau. Ringkasnya kebijakan pembangunan industri, energi, transportasi, dan pembangunan kota diarahkan dalam pengurangan energi penghasil GRK. Sedangkan kebijakan pertanian, pola pengendalian banjir, dan perencanaan penggunaan lahan serta hutan untuk meningkatkan kemampuan alam menyimpan air hujan dan menyerap GRK.                                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Salam!